AKU DI SEKOLAH PEREMPUAN PART I oleh Nensinur Sastra

Ini adalah pengalaman Nensinur Sastra, salah satu peserta Sekolah Perempuan Angkatan-4. Dia adalah penyandang disabilitas namun pembawaannya ceria. Terasa sekali optimisme yang dia tularkan melalui blognya:
http://diksi28.blogspot.com/2014/05/sekolah-perempuan-part-i_5.html

AKU DI SEKOLAH PEREMPUAN
PART I.
Ada yang berbeda dari Sabtu awal Mei kemarin.
Sejak Subuh aku telah bersiap dengan mengemasi barang-barang penting untuk petualangan baru.
Hari itu sebenarnya aku harus berangkat ke tempat aktifitasku di kantor LSM, namun janji untuk memulai kegiatan baru yang seminggu lalu kusepakati harus
benar-benar terrealisasi.
“Itu dia tempatnya,” kata tukang ojeg langgananku sambil menghentikan llaju sepeda motornya, tepat di halaman sebuah gedung ber-plang ‘Sekolah Perempuan’.
Kukira tak perlu aku keluarkan sang tongkat, teman sejati yang slalu jadi penolong itu untuk memasuki areal tersebut.
Setelah tukang ojeg pergi, aku langsung melangkah mendekati pintu dimana kudengar ada yang tengah bercakap-cakap.
Dak-dik-duk perasaanku begitu langkah ini hamper menyentuh ambang pintu yang terbuka.
“Asalamualaikum!” Aku bersalam pelan. Namun sepertinya yang di dalam tak mendengar suaraku yang kelewat imut, sehingga kuucapkan sekali bahkan dua kali
lagi.
Sampai akhirnya suara jawaban dsalamku terdengar dan itu membuat dak-dik-duk jantungku semakin tak karuan.
“Halo! Silahkan masuk!” Suara khas tipe Sanguinis terdengar amat merdu di telingaku.
Langsung terbayang dalam hati, sosok wanita muda yang menyambutku.
Pasti dia seseorang yang selain ramah,smart, and beautiful.
Dari caranya menyambut dan memegang tanganku, aku yakin 99 persen dugaanku benar.
Sambil memperkenalkanku pada seorang sahabatnya, yang juga berada dalam ruangan itu, aku dituntunnya duduk pada sebuah kursi.
Selang beberapa menit dari kedatanganku, muncul orang-orang baru yang kesemuanya adalah wanita. Sementara kami menunggu dimulainya kegiatan, aku duduk
termenung. Tepatnya masih nervous dengan situasi itu.
Malah saking nervousnya, aku malah lupa dengan nama teman-teman baru yang menyalamiku sebelum mereka ambil posisi.
Kira-kira pukul delapan tepat, kegiatanpun dimulai. Ternyata, pemilik suara yang menyambutku tadi aadalah salahsatu mentor sekolah perempuan tersebut.
Namanya INdari, biasanya dipanggil Mbak Iin.
Setelah membuka kelas dengan sambutan ramahnya, kamipun berkesempatan saling memperkenalkan diri. Bukan main teman-teman baruku itu, rata-rata berprofesi
sebagai ibu RT dengan segudang kesibukan menulis. So, bagaimana dengan aku? Yang hanya seorang liliput tak berbakat dan kayaknya tak pantas juga duduk
di antara mereka?
No problemo, Nensi! Selagi bola kesempatan itu tengah bergulir padamu, masa ia sih akan disia-siakan begitu saja?
Terbayang kembali kisah seminggu lalu, dimana salahsatu readerku yang kini telah merantau ke Frankfrut , memintaku mengikuti program beasiswa sekolah perempuan
yang saat ini tengah kududuki.
Melihat tempatnya yang cukup dekat dengan tempat tinggalku, dan betapa menariknya program ini bagi keberlangsungan hobi corat-coretku, akhirnya aku mulai
membuka halaman pengumuman tersebut.
Mudahnya persyaratan dan belum apa-apa sudah menangkap adanya energi semangat yang memuncah, membuat aku langsung menyatakan ikut dalam tawaran beasiswa itu.
Menulis beberapa paragraph dengan menggambarkan kondisiku dan keinginan besar jadi penulis aku rangkai dengan kalimat sedikit lebay.
Tentu, dengan harapan ada respon yang baik syukur-syukur masuk nominasi.
Tanggal 1 Mei adalah waktu pengumuman dilaksanakan.
Rasa kaget campur bimbang menjalar dalam hatiku, begitu namaku tertera sebagai penerima beasiswa bersama dua pengaju lainnya.
“Nensi? saya Mbak Ana.” Aku hampir terkejut saat tangan Mbak Ana menyentuh pundakku.
Saat itu kami tengah konsen penuh dalam menciptakan ide bakal calon judul buku nanti.
Tak tanggung-tanggung, Mbak Iin menginstrupsikan 30 ide yang harus kami selesaikan saat itu juga.
Heran, selama ini aku memang senang sekali menulis. Menulis apa saja yang bisa membuat hasratku ini tersalurkan.
Demikianpun dengan menemukan ide, tak dicaripun ide-ide konyol selalu mempir di kepalaku.
Kapan ide itu medadak buntu? menguap entah kemana. Mungkin dibawa angin beserta bau masakan lezat yang dibuat Mama Mba Iin di dapur tadi.
“Ia, Mbak, saya Nensi. Terimakasih loh, untuk beasiswanya.” Aku tersenyum malu. Mbak Ana adalah Kepala Sekolah Perempuan.
Beliau juga yang meyakinkan aku bisa duduk di sini saat berbincang lewat Facebook kemarin.
Selanjutnya, Mbak Ana mendampingi kami mengerjakan tugas 30 ide itu.
Sambil mengotak-atik jemari di atas keyboard, aku berusaha mengerjakan tugas itu. Kudengar beberapa teman berbicara, saling bertukar fikiran mendiskusikan ide-ide mereka.
Aku seperti biasa, hanya bisa menyimak. Masih sungkan menjalin komunikasi dengan mereka.
“Hmm, minggu depan semoga  sudah bisa menyesuaikan diri lebih baik lagi.” Ucapku dalam hati, sambil membereskan netbook ke dalam tas.
Bergandengan Mbak Ana aku keluar dari kelas. Suara Ibu empat anak itu, mengingatkanku pada sosok Bu Halimah. Dosen Kajian sastra disemester tengah yang memiliki sikap halus dan keibuan.
“Minggu depan jangan lupa datang, yah?” Itu pesan berulang dari Mbak Iin saat kami tengah narsis berfoto.
Aku memeluk pinggangnya yang langsing sambil berterimakasih, selain karena kebaikan hari itu, juga karena Yoghurt nya  yang begitu enak, yang berhasil kuselipkan ke dalam tas  menjelang pulang dari rumahnya tadi. 🙂
“Ok! sampai jumpa Sabtu yang kan datang!”
***
Pulang dari Sekolah Perempuan aku kembali bergelut dengan materi, meski sambil melanjutkan jam kerja di kantor LSM.
Ternyata belajar secara online dengan dimentor Mbak Ida yang jauh di Jiran sana, membuatku lebih rilekx dan konsentrasi.
Mungkin karena kondisi yang lebih akrab dan situasi yang lebih sepi, membuat semangat melanjutkan pelajaran ini bertambah.
Jika tadi sangat menikmati suasana kekeluargaan, bisa saling sapa dan berjabat tangan, ditambah lagi makan minum yang menyenangkan,
dibawah asuhan Mbak Ida ini aku lebih memeras otak agar tak sampai tertinggal dari peserta yang lain, yang pasti tengah berjuang pula di tempatnya masing-masing.
Semoga para mentor yang salihah itu, dan teman-teman yang energi semangatnya terasa sampai ke ubun-ubun, dapat mengantarku jadi penulis sukses.
“Aamiin.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *